Arsip untuk Uncategorized kategori

Handphone….Antara Manfaat dan Resiko

Posted in Uncategorized on Oktober 22, 2009 by Batara Sinaga

Sepuluh tahun yang lalu handphone masih sebuah benda yang mahal dan sulit terjangkau bagi kebanyakan orang. Malah bisa disebut barang mewah. Untuk menggunakannya kita masih melihat tempat, atau setengah sembunyi kalau tidak mau disebut “pamer”.

Sekarang, handphone dengan segala teknologinya sudah menjadi sebuah benda yang mudah didapat dan sangat penting untuk ditenteng kemana-mana, bahkan mungkin lebih penting dari sebuah pulpen. Atau jangan heran kalau ketinggalan dompet masih bisa ditahan menunggu pulang kerja sore hari, tapi ketinggalan handphone bisa memaksa seseorang untuk kembali ke rumah.

Luar biasa…manfaat handphone jauh masuk ke dalam kehidupan manusia segala lapisan. Sebegitu bermanfaatnya, sampai-sampai seseorang bisa tahan selera untuk beli makanan asal masih punya pulsa di handphone.

Tetapi dibalik manfaat yang diberikannya bagi kehidupan manusia, ternyata handphone juga membawa resiko buruk terhadap kehidupan (kesehatan) manusia itu sendiri. ketika digunakan berbicara atau mengirim SMS, handphone memancarkan radiasi dan energi RF (radiofrequency). Akumulasi radiasi dan energi RF ini dalam waktu yang lama, diyakini dapat meningkatkan resiko timbulnya berbagai penyakit seperti kanker, tumor, migrain/vertigo, atau masalah perilaku anak. Anak-anak yang sudah terbiasa menggunakan handphone dari kecil, akan dapat mengalami gangguan kesehatan setelah dewasa. Tentunya semakin tinggi pancaran radiasi yang dikeluarkan oleh sebuah handphone, semakin tinggi pula resiko bahaya terhadap kesehatan.

Berdasarkan studi yang dilakukan lembaga riset Environmental Working Group (EWG), sedikitnya terdapat 10 jenis handphone yang mempunyai radiasi tinggi, di antaranya Blackberry Curve 8830 dan Motorola Moto VU204. Selain itu ada juga jenis-jenis handphone dengan radiasi rendah seperti Nokia 9500, Nokia 7710, atau Blackberry Storm 9500, tetapi tetap berpotensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan.

“Sebenarnya kami ingin mengatakan bahwa ponsel merupakan barang yang aman,” kata Olga Naidenko, peneliti senior EWG yang mengepalai penelitian, seperti VIVAnews kutip dari About, 14 September 2009. “Tetapi sayangnya kami tidak bisa. Dari penelitian terakhir, meski belum selesai, terdapat permasalahan serius akan risiko kanker dari penggunaan ponsel yang harus ditelusuri melalui penelitian lebih lanjut. Untuk sementara waktu, pengguna bisa mengambil langkah-langkah untuk mereduksi paparan radiasi,” ucapnya.

Kebutuhan akan handphone sepertinya tidak akan lepas dari peradaban manusia di masa datang, tetapi setidaknya kita masih dapat mengambil langkah-langkah efektif untuk mengurangi resiko buruk terhadap kesehatan kita.

Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi bahaya radiasi handphone:

1. Gunakanlah handphone seperlunya.

2. Pertimbangkanlah selalu untuk menggunakan telepon rumah.

3. Jika anda terpaksa harus menggunakan handphone dalam waktu lama, aktifkan speaker atau gunakan handsfree.

    “Sebaiknya gunakan speaker daripada mendekatkan ponsel ke telinga. Jarak otak dan telinga yang dekat akan membuat radiasinya cepat masuk ke otak. Menggunakan speaker bisa menjauhkan jarak radiasi hingga 15 inci dan mengurangi RF ke otak hingga 1/225th,” ujar Dr. Andrew Weil seperti dilansir Huffington Post, Senin (12/10/2009).

    4. Dapatkan informasi tentang rate emisi radiasi sebelum anda memutuskan untuk membeli sebuah gadget handphone.

      Semoga bermanfaat….!

      By: Batara Sinaga

      4 Hidden Secrets of Top Performing Managers that You Must Know

      Posted in Uncategorized on Februari 7, 2009 by Batara Sinaga

      A manager’s most precious asset is his time. Preserving enough hours to do what really needs to be done is a constant struggle. To be a highly successful manager, you are not only required to master your respective field; you are also required to maximize your time. To achieve that, you are strongly advised to adopt these 4 management secrets developed by Dr. Steven Khaw.

      Secret #1Always Plan Ahead

      At the end of your each workday, make a “To-Do List” for the next day in order of priority. Differentiate between what is important and what is vital. Put high priorities on morale-building tasks. Keep track of tasks throughout the day and cross each off after it is done.

      Secret #2Always Stay Focused

      Do not let your stressful responsibilities linger. Cut big and onerous projects down to smaller size by breaking them into manageable bites. Remember, there are limits to what you can do. Set limits and learn to say no. Allocate blocks of time for tasks and try to put similar tasks in batches.

      Secret #3Maximize Your Minutes

      Keep a detailed time log for several days to see how your time is spent. Reclaim some of your lost minutes by sticking to a schedule that includes an allocated block of time for personal matters. If surfing the internet is a good stress reliever; build it into your lunch time break.


      Secret #4Give Others a Chance

      Don’t micro-manage. Besides wasting time, it also kills your employees’ morale and productivity. Independent employees tend to work harder and better, thus free up your time for strategic planning. Pick your right people and give them clear directions as well as realistic due dates.

      It is essential for managers to create a motivating and functional workforce. To optimize your employees’ hidden potentials.

      Source: My Collegue

      Mengemudi Dengan Aman

      Posted in Uncategorized on Desember 23, 2008 by Batara Sinaga

      Bulan Desember telah tiba, banyak perjalanan akan dilakukan oleh orang-orang yang akan memanfaatkan hari libur untuk mudik, atau hanya sekedar wisata.
      Tentu semua orang menginginkan tiba dengan selamat di tempat tujuan tanpa kurang suatu apapun. Biasanya sebelum berangkat pengemudi akan melakukan persiapan khususnya kondisi kendaraan seperti rem, mesin, dan oli mesin. Bahkan ada juga yang menambah assesori yang selain untuk memperindah tampilan, dianggap juga bisa menambah performa kendaraan seperti kaca spion tambahan, kenalpot racing.
      Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu persiapan pengemudi baik secara fisik maupun mental. Dengan kondisi fisik dan mental yang prima, seorang pengemudi akan lebih siap untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan bereaksi secara baik untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan.
      Berikut ada beberapa tips yang mungkin berguna bagi anda untuk mempersiapkan fisik dan mental:
      - Sebelum melakukan perjalanan seorang pengemudi harus mendapat istirahat (tidur) yang cukup
      - Jangan mengemudi dalam keadaan lapar atau malah terlalu kenyang
      - Minum air putih yang cukup selama perjalanan
      - Posisi duduk mengemudi harus diusahakan senyaman mungkin, dan mempunyai ruang gerak yang leluasa
      - Upayakan pandangan yang seluas-luasnya ke depan dan selalu waspada
      - Apabila menyetel musik sebaiknya dengan volume yang tidak terlalu keras dan sebaiknya memilih musik yang bisa memberikan nuansa yang tenang
      - Jangan terbawa emosi dengan keadaan sekitar seperti ulah pengemudi lain yang tidak menyenangkan
      Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, memohon keselamatan dari Tuhan.
      Semoga perjalanan anda menyenangkan dan pulang kembali dengan selamat.

      Sabar

      Posted in Uncategorized on November 11, 2008 by Batara Sinaga

      Sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Ketika orang lain kita lihat sedang dikuasai perasaan tidak sabar, biasanya kita akan memberikan nasehat supaya (lebih) sabar. Tapi di saat lain, kita sendiri akan juga mengalami perasaan tidak sabar terhadap sesuatu kejadian yang kita hadapi.

      Sebenarnya kita sangat mudah membedakan kondisi dimana kita bertindak sabar atau sebaliknya tidak sabar. Dalam aktivitas sehari-hari, hal tentang kesabaran sangat mudah diidentifikasi. Ketidaksabaran yang tidak bisa kita kendalikan akan bermuara kepada rasa marah. Permasalahn yang sering terjadi dalah kita tidak cukup responsif untuk mengambil langkah memperbaiki tindakan kita. Kita tidak mudah mengubah (turning) perilaku kita ke arah yang berbeda (positif).

      Posisi Superior

      Kadang-kadang memang kita tidak mengalami langsung akibat negatif lanjutan sebagai buah dari tindakan kita yang tidak sabar. Kemarahan yang kita keluarkan sebagai akibat ketidaksabaran sepertinya tidak mendapatkan reaksi dari lingkungan kita. Mungkin dalam keadaan itu kita sedang dalam posisi “superior” sehingga orang-orang di sekeliling kita enggan memberikan reaksi yang sama kepada kita. Misalnya kita sebagai atasan, sebagai orangtua, atau sebagai guru. Dalam hal ini seolah-olah kita merasa mendapat pembenaran bahwa “tidak ada salahnya marah”.

      Di kala lain, tindakan kemarahan yang kita luapkan bisa juga mendapat reaksi yang bertentangan dari lingkungan kita. Kemarahan yang kita ungkapkan tidak diterima begitu saja oleh orang-orang di sekeliling kita. Ironisnya, semakin tindakan kita direspon negatif pihak lain, amarah kita bisa-bisa semakin menjadi-jadi. Jangan salahkan siapa-siapa kalau sampai pada keadaan ini, situasi yang lebih buruk (kerugian yang lebih besar) sedang mengintip kita. Itulah sebabnya orang-orang yang mengasihi kita biasanya akan memberi nasihat atau petuah yang bertujuan menyadarkan kita agar tidak terjerumus lebih jauh lagi. Kita perlu mengelola perasaan emosi kita secara lebih baik.

      Ketika menghadapi anak kita yang sudah remaja dengan berbagai tingkah laku yang di mata kita sebagai orang tua adalah tidak benar, kemampuan kesabaran kita sering diuji. Kenakalan-kenakalan dilakukan tanpa merasa salah, bahkan seolah-olah itu adalah haknya sebagai seorang anak. Satu kesalahan masih kita coba bersabar, menasehati, memberi pengertian. Tetapi ketika kesalahan-kesalahan berikutnya dilakukan dengan seenaknya, syahwat amarah kita mulai memuncak. Kita mulai kehilangan akal dan berkata dalam hati “sudah habis kesabaranku”. Posisi superior kita mulai mendominasi cara berpikir kita. Maka tidak jarang orang tua melakukan tindakan yang mengarah ke hukuman fisik. Ini adalah manifestasi dari perasaan kehilangan kesabaran akibat dari terlambatnya respon positif dari diri sendiri.

      Diluar Kendali Kita

      Ada satu cerita dimana seorang lelaki mengalami rentetan kejadian dalam satu hari yang benar-benar menguji kesabarannya. Pagi hari dia terbangun lebih pagi dari biasanya karena mendengar ribut-ribut suara sepeda motor yang dihidupkan meraung-raung di samping rumah. Ketika dia hendak menggosok gigi, dia temukan odol sudah kandas sampai pipih dan tak mungkin lagi keluar meski harus diinjak-injak. Sampai disini dia masih mencoba bersabar. Setelah ritual mandi dan sarapan diselesaikan, dia berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya yang sudah tidak “muda” lagi. Ketika masuk jalan utama, mobilnya mulai merayap pelan-pelan mengikuti kemacetan yang setiap pagi terjadi. Tiba-tiba mobilnya tersendat-sendat jalannya dan menunjukkan gejala mau mogok. Dia berharap-harap dalam hati, mudah-mudahan tidak mogok … dan kalaupun mogok maunya setelah perempatan di depan, karena tidak jauh dari situ ada bengkel mobil. Benar, mobilnya dapat melalui kemacetan sampai melewati perempatan, tetapi akhirnya mogok juga kira-kira 50 meter dari bengkel yang dimaksud. Udah, nggak apa-apalah …. tinggal mendorong sedikit sudah sampai. Dengan minta tolong ke beberapa orang yang sedang lewat, mobil berhasil digeser sampai di depan gerbang bengkel. Dalam hatinya “meski telat, saya masih bisa masuk kantor hari ini”. Tetapi ketika ditanya, petugas jaga di bengkel itu bilang bahwa teknisi bengkel baru akan masuk kerja jam 9. Berarti dia harus menunggu kira-kira 2 jam lagi sampai teknisinya datang. Kesabarannya mulai hilang. Emosinya mulai tak terkendali dan sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak, pagi dimulai dengan kekesalan dan hingga saat ini kekesalan masih mendampinginya terus. Bahkan kalau cerita ini dilanjutkan, mungkin masih akan ada lagi serangkaian kejadian-kejadian yang akan membuatnya lebih emosi lagi dan semuanya diluar kendalinya.

      Kita mungkin pernah mengalami rentetan kejadian seperti (atau mirip) dengan cerita diatas. Kalau kita sudah pernah membaca buku tentang “bagaimana mengelola emosi anda” atau semacamnya, atau nasihat dari pakar motivator Andrie Wongso (7 Langkah Kesabaran), mungkin kita akan mulai mem-praktek-kannya. Langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya kita lakukan. Dalam hal ini yang kita lakukan adalah mengelola seluruh kemampuan yang ada pada diri kita, untuk bisa bertahan dan mengendalikan diri. Hal ini memang akan sangat membantu dan bisa berhasil, tetapi masih hanya dalam konteks mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.

      Sabar Vs Pasrah

      Ketika usaha pengendalian diri yang kita harapkan berhasil dari diri kita sendiri tidak membuahkan hasil, kemungkinan kita akan berhenti dan memilih pasrah pada keadaan. Satu hal, kita harus membedakan antara pengertian Sabar dengan Pasrah. Dalam keadaan pasrah, kita telah menghentikan peluang untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik untuk masalah yang sedang kita hadapi. Kepasrahan telah meruntuhkan jembatan yang akan menghantarkan kita kepada kondisi yang lebih baik. Kita harus menghindari ini, yang kita inginkan adalah proses-proses positif yang akan membuat atmosfir kehidupan kita lebih lega.

      Kalau diatas kita bercerita tentang upaya-upaya dari diri kita sendiri untuk mengatasi keadaan. Tetapi pernah terpikir nggak untuk mengundang “kekuatan lain” yang sangat meyakinkan dapat membantu kita untuk berhasil melewati keadaan yang benar-benar diluar kendali kita dan menguras kemampuan kita. Dengan cara ini kita membiarkan spirit lain yang ada diluar kita, menuntun kita secara perlahan, menenangkan emosi kita, menyejukkan hati kita, bahkan akhirnya membuat kita seolah-olah tidak ada mengalami kejengkelan-kejengkelan sama sekali sebelumnya. Cara itu adalah dengan BERDOA. Ya very simple, berdoa. Dengan berdoa, kita membiarkan Roh Tuhan yang bekerja di dalam diri kita. Memberikan pengertian ke dalam hati kita, melembutkan saraf-saraf kita yang tegang, dan melonggarkan pikiran kita yang kusut (crowded). Berdoa yang bukan dengan harus melipat tangan, tetapi memusatkan pikiran meminta campur tangan Tuhan dalam pergumulan bathin kita. Tetapi satu hal, lakukanlah DOA itu dari saat pertama anda mengalami kejengkelan. Selanjutnya meski sejuta kejengkelan menghadang kita, tidak akan mempengaruhi kita. Semoga bermanfaat….!

      Galatia 5:22-23 > Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.