Tarutung

Tarutung adalah sebuah kota yang terletak di bagian selatan Sumatera Utara. Jaraknya sekitar 300 km dari kota Medan. Sebagaimana daerah yang berada di ketinggian sekitar 900an dpl, kota Tarutung berhawa sejuk.

Aku sangat familiar dengan kota ini. Tentu, karena aku dilahirkan dan dibesarkan di kota ini. Mulai dari udaranya yang dingin, sampai tempat2 favorit bagi para pendatang (bahkan masih tempat favorit bagi kami yang lahir disana).

Ada satu hal yang menjadi karunia tersendiri bagi kota ini, yaitu adanya tempat pemandian dengan berbagai sumber yang berbeda. Ada pemandian air panas berbelerang (Sipoholon dan Hutabarat), air hangat jernih tidak berbelerang (Ugan), air bersoda (Aek Rara), bahkan air dingin (Simarlailai). Yang aku sebutkan terakhir ini, aku kurang tau apakah masih sering dikunjungi orang.

Pemandian air panas atau air hangat disebut juga sebagai “Aek Rangat”. Aku kurang tahu kenapa akhirnya disebut Aek Rangat. Pemandian favoritku sendiri adalah air hangat Ugan. Selain bening, airnya hangat bisa langsung celup dan tidak berbelerang lagi. Hanya tempatnya kurang nyaman, karena harus bercampur baur dengan semua yang mandi, tidak ada atap dan pintu lagi. Biasanya “ritual” mandi disini, kami akhiri dengan makan telur bebek rebus dengan kecap asin cap angsa. Meskipun tempatnya kurang nyaman, tapi aku lebih suka kesana, daripada harus menggigil mandi air ledeng di rumah.

Sesekali aku juga sambangi air panas Sipoholon, manakala badan terasa lelah dan letih. Mandi dalam air panas berbelerang, akan terasa melonggarkan otot2 dan pori2. Yang unik di tempat ini adalah sistim antri untuk mendapatkan kamar mandi. Maka untuk membalas lama antrian yang bisa sampai satu jam, terpaksa kami membalasnya dengan berlama2 berendam. Aku lihat pengelola permandian sudah bertambah banyak disini, bahkan sudah ada yang tersentuh arsitektur bergaya modern. Suatu kemajuan yang pantas diteruskan.

Permandian air panas Hutabarat hampir sama dengan kondisi di Sipoholon. Hanya karena lokasinya berada di dalam perkampungan (bukan jalan lintas), maka pemandian ini kurang berkembang. Menurut cerita teman-teman pemandian ini kurang berkembang.

Air bersoda yang terletak di Desa Parbubu disebut juga dengan Aek Rara. Airnya memang betul2 mengandung soda yang terasa asam, dan sedikit pedih bila kena mata. Wadahnya berupa kolam besar (seperti kolam renang bulat) dan berbatasan dengan sawah, jadi semua yang datang mandi sama2 di dalam kolam itu. Sekali waktu aku kesana lihat2, sudah sedikit berobah dengan pinggiran kolam sudah dibeton (dulu masih tanah seperti pematang sawah). Kedalaman kolamnya kira2 setinggi leher orang dewasa. Aku suka kesana semasa remaja dulu.

Kalau pemandian air dingin Simarlalai mungkin kurang populer dibandingkan dengan pemandian lainnya. Wajar saja, karena orang kurang berminat mandi air dingin sementara udaranya sendiri sudah dingin. Tapi nggak ada salahnya juga kalau mau mencoba, sekedar membandingkan. Pemandiannya adalah berupa kolam kecil curahan dari bendungan kecil, dan seingatku hanya tempat mandi untuk kaum adam. Tempatnya di alam terbuka, tidak ada kamar penyekat apalagi atap. Waktu anak-anak aku beberapa kali kesana. Ke ujung pemandian ini ada sebuah kampung (aku lupa namanya), dimana terdapat satu jenis pohon namanya Hatopul, yang buahnya mirip cempedak tetapi dengan ukuran buah yang lebih kecil.

Apa yang mau aku sampaikan adalah bahwa Tarutung mempunyai potensi wisata “air” yang luar biasa, yang apabila dikelola dan dikembangkan dengan baik akan membuat kehidupan yang jauh lebih baik bagi penduduk di sekitarnya. Aku pernah berkunjung ke beberapa tempat wista (pemandian) yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, tetapi dikelola dengan baik dan menjadi andalan parawisata di daerah tsb. Semoga hal ini tidak luput dari perhatian pemda untuk pengembangan ke depan.

3 Tanggapan ke “Tarutung”

  1. :D kalau air dingin (Simarlailai) wajar kalau tidak dikunjungi orang lagi amangbru.. Soalnya mengingat cuaca Tarutung yang dingin, orangpun segan berendam di air dingin.. hehe.. :) jadi teringat kemaren waktu lebaran jalan ke bandung, abis turun mendaki gunung Burangrang, sebenarnya ingin ke Ciater.. disana ada Onsen(red. “pemandian air panas”) yang sama kaya di Tarutung.. tapi karena semua kelelahan.. kita tidak jadi kesana.. dalam hati punya tekat, nanti pulang natalan.. kalau sempat mau ke sipoholon aja.. :D hehe.. boleh lah amang boru ajak kesana nanti.. :D

  2. Oke Cu. Yang asyik sekarang Sipholon krn infrastruktur udah memadai.

  3. Bang, katanya familiar Tarutung tapi kok lupa nama kampung Simarlalai, cam mana pula ini hehehe…..

Tinggalkan Balasan