Arsip untuk November, 2008

Sabar

Posted in Uncategorized on November 11, 2008 by Batara Sinaga

Sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Ketika orang lain kita lihat sedang dikuasai perasaan tidak sabar, biasanya kita akan memberikan nasehat supaya (lebih) sabar. Tapi di saat lain, kita sendiri akan juga mengalami perasaan tidak sabar terhadap sesuatu kejadian yang kita hadapi.

Sebenarnya kita sangat mudah membedakan kondisi dimana kita bertindak sabar atau sebaliknya tidak sabar. Dalam aktivitas sehari-hari, hal tentang kesabaran sangat mudah diidentifikasi. Ketidaksabaran yang tidak bisa kita kendalikan akan bermuara kepada rasa marah. Permasalahn yang sering terjadi dalah kita tidak cukup responsif untuk mengambil langkah memperbaiki tindakan kita. Kita tidak mudah mengubah (turning) perilaku kita ke arah yang berbeda (positif).

Posisi Superior

Kadang-kadang memang kita tidak mengalami langsung akibat negatif lanjutan sebagai buah dari tindakan kita yang tidak sabar. Kemarahan yang kita keluarkan sebagai akibat ketidaksabaran sepertinya tidak mendapatkan reaksi dari lingkungan kita. Mungkin dalam keadaan itu kita sedang dalam posisi “superior” sehingga orang-orang di sekeliling kita enggan memberikan reaksi yang sama kepada kita. Misalnya kita sebagai atasan, sebagai orangtua, atau sebagai guru. Dalam hal ini seolah-olah kita merasa mendapat pembenaran bahwa “tidak ada salahnya marah”.

Di kala lain, tindakan kemarahan yang kita luapkan bisa juga mendapat reaksi yang bertentangan dari lingkungan kita. Kemarahan yang kita ungkapkan tidak diterima begitu saja oleh orang-orang di sekeliling kita. Ironisnya, semakin tindakan kita direspon negatif pihak lain, amarah kita bisa-bisa semakin menjadi-jadi. Jangan salahkan siapa-siapa kalau sampai pada keadaan ini, situasi yang lebih buruk (kerugian yang lebih besar) sedang mengintip kita. Itulah sebabnya orang-orang yang mengasihi kita biasanya akan memberi nasihat atau petuah yang bertujuan menyadarkan kita agar tidak terjerumus lebih jauh lagi. Kita perlu mengelola perasaan emosi kita secara lebih baik.

Ketika menghadapi anak kita yang sudah remaja dengan berbagai tingkah laku yang di mata kita sebagai orang tua adalah tidak benar, kemampuan kesabaran kita sering diuji. Kenakalan-kenakalan dilakukan tanpa merasa salah, bahkan seolah-olah itu adalah haknya sebagai seorang anak. Satu kesalahan masih kita coba bersabar, menasehati, memberi pengertian. Tetapi ketika kesalahan-kesalahan berikutnya dilakukan dengan seenaknya, syahwat amarah kita mulai memuncak. Kita mulai kehilangan akal dan berkata dalam hati “sudah habis kesabaranku”. Posisi superior kita mulai mendominasi cara berpikir kita. Maka tidak jarang orang tua melakukan tindakan yang mengarah ke hukuman fisik. Ini adalah manifestasi dari perasaan kehilangan kesabaran akibat dari terlambatnya respon positif dari diri sendiri.

Diluar Kendali Kita

Ada satu cerita dimana seorang lelaki mengalami rentetan kejadian dalam satu hari yang benar-benar menguji kesabarannya. Pagi hari dia terbangun lebih pagi dari biasanya karena mendengar ribut-ribut suara sepeda motor yang dihidupkan meraung-raung di samping rumah. Ketika dia hendak menggosok gigi, dia temukan odol sudah kandas sampai pipih dan tak mungkin lagi keluar meski harus diinjak-injak. Sampai disini dia masih mencoba bersabar. Setelah ritual mandi dan sarapan diselesaikan, dia berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya yang sudah tidak “muda” lagi. Ketika masuk jalan utama, mobilnya mulai merayap pelan-pelan mengikuti kemacetan yang setiap pagi terjadi. Tiba-tiba mobilnya tersendat-sendat jalannya dan menunjukkan gejala mau mogok. Dia berharap-harap dalam hati, mudah-mudahan tidak mogok … dan kalaupun mogok maunya setelah perempatan di depan, karena tidak jauh dari situ ada bengkel mobil. Benar, mobilnya dapat melalui kemacetan sampai melewati perempatan, tetapi akhirnya mogok juga kira-kira 50 meter dari bengkel yang dimaksud. Udah, nggak apa-apalah …. tinggal mendorong sedikit sudah sampai. Dengan minta tolong ke beberapa orang yang sedang lewat, mobil berhasil digeser sampai di depan gerbang bengkel. Dalam hatinya “meski telat, saya masih bisa masuk kantor hari ini”. Tetapi ketika ditanya, petugas jaga di bengkel itu bilang bahwa teknisi bengkel baru akan masuk kerja jam 9. Berarti dia harus menunggu kira-kira 2 jam lagi sampai teknisinya datang. Kesabarannya mulai hilang. Emosinya mulai tak terkendali dan sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak, pagi dimulai dengan kekesalan dan hingga saat ini kekesalan masih mendampinginya terus. Bahkan kalau cerita ini dilanjutkan, mungkin masih akan ada lagi serangkaian kejadian-kejadian yang akan membuatnya lebih emosi lagi dan semuanya diluar kendalinya.

Kita mungkin pernah mengalami rentetan kejadian seperti (atau mirip) dengan cerita diatas. Kalau kita sudah pernah membaca buku tentang “bagaimana mengelola emosi anda” atau semacamnya, atau nasihat dari pakar motivator Andrie Wongso (7 Langkah Kesabaran), mungkin kita akan mulai mem-praktek-kannya. Langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya kita lakukan. Dalam hal ini yang kita lakukan adalah mengelola seluruh kemampuan yang ada pada diri kita, untuk bisa bertahan dan mengendalikan diri. Hal ini memang akan sangat membantu dan bisa berhasil, tetapi masih hanya dalam konteks mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.

Sabar Vs Pasrah

Ketika usaha pengendalian diri yang kita harapkan berhasil dari diri kita sendiri tidak membuahkan hasil, kemungkinan kita akan berhenti dan memilih pasrah pada keadaan. Satu hal, kita harus membedakan antara pengertian Sabar dengan Pasrah. Dalam keadaan pasrah, kita telah menghentikan peluang untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik untuk masalah yang sedang kita hadapi. Kepasrahan telah meruntuhkan jembatan yang akan menghantarkan kita kepada kondisi yang lebih baik. Kita harus menghindari ini, yang kita inginkan adalah proses-proses positif yang akan membuat atmosfir kehidupan kita lebih lega.

Kalau diatas kita bercerita tentang upaya-upaya dari diri kita sendiri untuk mengatasi keadaan. Tetapi pernah terpikir nggak untuk mengundang “kekuatan lain” yang sangat meyakinkan dapat membantu kita untuk berhasil melewati keadaan yang benar-benar diluar kendali kita dan menguras kemampuan kita. Dengan cara ini kita membiarkan spirit lain yang ada diluar kita, menuntun kita secara perlahan, menenangkan emosi kita, menyejukkan hati kita, bahkan akhirnya membuat kita seolah-olah tidak ada mengalami kejengkelan-kejengkelan sama sekali sebelumnya. Cara itu adalah dengan BERDOA. Ya very simple, berdoa. Dengan berdoa, kita membiarkan Roh Tuhan yang bekerja di dalam diri kita. Memberikan pengertian ke dalam hati kita, melembutkan saraf-saraf kita yang tegang, dan melonggarkan pikiran kita yang kusut (crowded). Berdoa yang bukan dengan harus melipat tangan, tetapi memusatkan pikiran meminta campur tangan Tuhan dalam pergumulan bathin kita. Tetapi satu hal, lakukanlah DOA itu dari saat pertama anda mengalami kejengkelan. Selanjutnya meski sejuta kejengkelan menghadang kita, tidak akan mempengaruhi kita. Semoga bermanfaat….!

Galatia 5:22-23 > Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Silindung

Posted in Songs on November 5, 2008 by Batara Sinaga

Sian punsu ni Dolok Martimbang i

Jongjong au manatap, hutatap humaliang

Songon intan nang berlian nararak di hutai

Arta pinukka ni ompui

Sian purba pe sahat tu irisanna

Tarbarita do tongtong hinaulinai

Nang tu desa naulau, tong tarsar baritani

O Rura Silindung Nauli

Hape nuaeng dung dao au sian lambungmi

Marhuta sada tu luat sileban i

Hubege baritam tangis au di nadao

Huingot disihaetehonki

Huta nauli didia saonari

Huta najogi hatubuanki

Tung godang do naung hasea sian ho

Pangisi ni luatmi di luat nadao

Aha ma naung dipatupa lao paturehon ho

Paulihon hinajogi mi

dohot udutna…sori bah lupa

endeon pinatomu-tomu ni abanganda Rudolf Hutagalung

Tarutung

Posted in Kotaku on November 2, 2008 by Batara Sinaga

Tarutung adalah sebuah kota yang terletak di bagian selatan Sumatera Utara. Jaraknya sekitar 300 km dari kota Medan. Sebagaimana daerah yang berada di ketinggian sekitar 900an dpl, kota Tarutung berhawa sejuk.

Aku sangat familiar dengan kota ini. Tentu, karena aku dilahirkan dan dibesarkan di kota ini. Mulai dari udaranya yang dingin, sampai tempat2 favorit bagi para pendatang (bahkan masih tempat favorit bagi kami yang lahir disana).

Ada satu hal yang menjadi karunia tersendiri bagi kota ini, yaitu adanya tempat pemandian dengan berbagai sumber yang berbeda. Ada pemandian air panas berbelerang (Sipoholon dan Hutabarat), air hangat jernih tidak berbelerang (Ugan), air bersoda (Aek Rara), bahkan air dingin (Simarlailai). Yang aku sebutkan terakhir ini, aku kurang tau apakah masih sering dikunjungi orang.

Pemandian air panas atau air hangat disebut juga sebagai “Aek Rangat”. Aku kurang tahu kenapa akhirnya disebut Aek Rangat. Pemandian favoritku sendiri adalah air hangat Ugan. Selain bening, airnya hangat bisa langsung celup dan tidak berbelerang lagi. Hanya tempatnya kurang nyaman, karena harus bercampur baur dengan semua yang mandi, tidak ada atap dan pintu lagi. Biasanya “ritual” mandi disini, kami akhiri dengan makan telur bebek rebus dengan kecap asin cap angsa. Meskipun tempatnya kurang nyaman, tapi aku lebih suka kesana, daripada harus menggigil mandi air ledeng di rumah.

Sesekali aku juga sambangi air panas Sipoholon, manakala badan terasa lelah dan letih. Mandi dalam air panas berbelerang, akan terasa melonggarkan otot2 dan pori2. Yang unik di tempat ini adalah sistim antri untuk mendapatkan kamar mandi. Maka untuk membalas lama antrian yang bisa sampai satu jam, terpaksa kami membalasnya dengan berlama2 berendam. Aku lihat pengelola permandian sudah bertambah banyak disini, bahkan sudah ada yang tersentuh arsitektur bergaya modern. Suatu kemajuan yang pantas diteruskan.

Permandian air panas Hutabarat hampir sama dengan kondisi di Sipoholon. Hanya karena lokasinya berada di dalam perkampungan (bukan jalan lintas), maka pemandian ini kurang berkembang. Menurut cerita teman-teman pemandian ini kurang berkembang.

Air bersoda yang terletak di Desa Parbubu disebut juga dengan Aek Rara. Airnya memang betul2 mengandung soda yang terasa asam, dan sedikit pedih bila kena mata. Wadahnya berupa kolam besar (seperti kolam renang bulat) dan berbatasan dengan sawah, jadi semua yang datang mandi sama2 di dalam kolam itu. Sekali waktu aku kesana lihat2, sudah sedikit berobah dengan pinggiran kolam sudah dibeton (dulu masih tanah seperti pematang sawah). Kedalaman kolamnya kira2 setinggi leher orang dewasa. Aku suka kesana semasa remaja dulu.

Kalau pemandian air dingin Simarlalai mungkin kurang populer dibandingkan dengan pemandian lainnya. Wajar saja, karena orang kurang berminat mandi air dingin sementara udaranya sendiri sudah dingin. Tapi nggak ada salahnya juga kalau mau mencoba, sekedar membandingkan. Pemandiannya adalah berupa kolam kecil curahan dari bendungan kecil, dan seingatku hanya tempat mandi untuk kaum adam. Tempatnya di alam terbuka, tidak ada kamar penyekat apalagi atap. Waktu anak-anak aku beberapa kali kesana. Ke ujung pemandian ini ada sebuah kampung (aku lupa namanya), dimana terdapat satu jenis pohon namanya Hatopul, yang buahnya mirip cempedak tetapi dengan ukuran buah yang lebih kecil.

Apa yang mau aku sampaikan adalah bahwa Tarutung mempunyai potensi wisata “air” yang luar biasa, yang apabila dikelola dan dikembangkan dengan baik akan membuat kehidupan yang jauh lebih baik bagi penduduk di sekitarnya. Aku pernah berkunjung ke beberapa tempat wista (pemandian) yang sebenarnya tidak terlalu istimewa, tetapi dikelola dengan baik dan menjadi andalan parawisata di daerah tsb. Semoga hal ini tidak luput dari perhatian pemda untuk pengembangan ke depan.