Sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Ketika orang lain kita lihat sedang dikuasai perasaan tidak sabar, biasanya kita akan memberikan nasehat supaya (lebih) sabar. Tapi di saat lain, kita sendiri akan juga mengalami perasaan tidak sabar terhadap sesuatu kejadian yang kita hadapi.
Sebenarnya kita sangat mudah membedakan kondisi dimana kita bertindak sabar atau sebaliknya tidak sabar. Dalam aktivitas sehari-hari, hal tentang kesabaran sangat mudah diidentifikasi. Ketidaksabaran yang tidak bisa kita kendalikan akan bermuara kepada rasa marah. Permasalahn yang sering terjadi dalah kita tidak cukup responsif untuk mengambil langkah memperbaiki tindakan kita. Kita tidak mudah mengubah (turning) perilaku kita ke arah yang berbeda (positif).
Posisi Superior
Kadang-kadang memang kita tidak mengalami langsung akibat negatif lanjutan sebagai buah dari tindakan kita yang tidak sabar. Kemarahan yang kita keluarkan sebagai akibat ketidaksabaran sepertinya tidak mendapatkan reaksi dari lingkungan kita. Mungkin dalam keadaan itu kita sedang dalam posisi “superior” sehingga orang-orang di sekeliling kita enggan memberikan reaksi yang sama kepada kita. Misalnya kita sebagai atasan, sebagai orangtua, atau sebagai guru. Dalam hal ini seolah-olah kita merasa mendapat pembenaran bahwa “tidak ada salahnya marah”.
Di kala lain, tindakan kemarahan yang kita luapkan bisa juga mendapat reaksi yang bertentangan dari lingkungan kita. Kemarahan yang kita ungkapkan tidak diterima begitu saja oleh orang-orang di sekeliling kita. Ironisnya, semakin tindakan kita direspon negatif pihak lain, amarah kita bisa-bisa semakin menjadi-jadi. Jangan salahkan siapa-siapa kalau sampai pada keadaan ini, situasi yang lebih buruk (kerugian yang lebih besar) sedang mengintip kita. Itulah sebabnya orang-orang yang mengasihi kita biasanya akan memberi nasihat atau petuah yang bertujuan menyadarkan kita agar tidak terjerumus lebih jauh lagi. Kita perlu mengelola perasaan emosi kita secara lebih baik.
Ketika menghadapi anak kita yang sudah remaja dengan berbagai tingkah laku yang di mata kita sebagai orang tua adalah tidak benar, kemampuan kesabaran kita sering diuji. Kenakalan-kenakalan dilakukan tanpa merasa salah, bahkan seolah-olah itu adalah haknya sebagai seorang anak. Satu kesalahan masih kita coba bersabar, menasehati, memberi pengertian. Tetapi ketika kesalahan-kesalahan berikutnya dilakukan dengan seenaknya, syahwat amarah kita mulai memuncak. Kita mulai kehilangan akal dan berkata dalam hati “sudah habis kesabaranku”. Posisi superior kita mulai mendominasi cara berpikir kita. Maka tidak jarang orang tua melakukan tindakan yang mengarah ke hukuman fisik. Ini adalah manifestasi dari perasaan kehilangan kesabaran akibat dari terlambatnya respon positif dari diri sendiri.
Diluar Kendali Kita
Ada satu cerita dimana seorang lelaki mengalami rentetan kejadian dalam satu hari yang benar-benar menguji kesabarannya. Pagi hari dia terbangun lebih pagi dari biasanya karena mendengar ribut-ribut suara sepeda motor yang dihidupkan meraung-raung di samping rumah. Ketika dia hendak menggosok gigi, dia temukan odol sudah kandas sampai pipih dan tak mungkin lagi keluar meski harus diinjak-injak. Sampai disini dia masih mencoba bersabar. Setelah ritual mandi dan sarapan diselesaikan, dia berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya yang sudah tidak “muda” lagi. Ketika masuk jalan utama, mobilnya mulai merayap pelan-pelan mengikuti kemacetan yang setiap pagi terjadi. Tiba-tiba mobilnya tersendat-sendat jalannya dan menunjukkan gejala mau mogok. Dia berharap-harap dalam hati, mudah-mudahan tidak mogok … dan kalaupun mogok maunya setelah perempatan di depan, karena tidak jauh dari situ ada bengkel mobil. Benar, mobilnya dapat melalui kemacetan sampai melewati perempatan, tetapi akhirnya mogok juga kira-kira 50 meter dari bengkel yang dimaksud. Udah, nggak apa-apalah …. tinggal mendorong sedikit sudah sampai. Dengan minta tolong ke beberapa orang yang sedang lewat, mobil berhasil digeser sampai di depan gerbang bengkel. Dalam hatinya “meski telat, saya masih bisa masuk kantor hari ini”. Tetapi ketika ditanya, petugas jaga di bengkel itu bilang bahwa teknisi bengkel baru akan masuk kerja jam 9. Berarti dia harus menunggu kira-kira 2 jam lagi sampai teknisinya datang. Kesabarannya mulai hilang. Emosinya mulai tak terkendali dan sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak, pagi dimulai dengan kekesalan dan hingga saat ini kekesalan masih mendampinginya terus. Bahkan kalau cerita ini dilanjutkan, mungkin masih akan ada lagi serangkaian kejadian-kejadian yang akan membuatnya lebih emosi lagi dan semuanya diluar kendalinya.
Kita mungkin pernah mengalami rentetan kejadian seperti (atau mirip) dengan cerita diatas. Kalau kita sudah pernah membaca buku tentang “bagaimana mengelola emosi anda” atau semacamnya, atau nasihat dari pakar motivator Andrie Wongso (7 Langkah Kesabaran), mungkin kita akan mulai mem-praktek-kannya. Langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya kita lakukan. Dalam hal ini yang kita lakukan adalah mengelola seluruh kemampuan yang ada pada diri kita, untuk bisa bertahan dan mengendalikan diri. Hal ini memang akan sangat membantu dan bisa berhasil, tetapi masih hanya dalam konteks mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.
Sabar Vs Pasrah
Ketika usaha pengendalian diri yang kita harapkan berhasil dari diri kita sendiri tidak membuahkan hasil, kemungkinan kita akan berhenti dan memilih pasrah pada keadaan. Satu hal, kita harus membedakan antara pengertian Sabar dengan Pasrah. Dalam keadaan pasrah, kita telah menghentikan peluang untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik untuk masalah yang sedang kita hadapi. Kepasrahan telah meruntuhkan jembatan yang akan menghantarkan kita kepada kondisi yang lebih baik. Kita harus menghindari ini, yang kita inginkan adalah proses-proses positif yang akan membuat atmosfir kehidupan kita lebih lega.
Kalau diatas kita bercerita tentang upaya-upaya dari diri kita sendiri untuk mengatasi keadaan. Tetapi pernah terpikir nggak untuk mengundang “kekuatan lain” yang sangat meyakinkan dapat membantu kita untuk berhasil melewati keadaan yang benar-benar diluar kendali kita dan menguras kemampuan kita. Dengan cara ini kita membiarkan spirit lain yang ada diluar kita, menuntun kita secara perlahan, menenangkan emosi kita, menyejukkan hati kita, bahkan akhirnya membuat kita seolah-olah tidak ada mengalami kejengkelan-kejengkelan sama sekali sebelumnya. Cara itu adalah dengan BERDOA. Ya very simple, berdoa. Dengan berdoa, kita membiarkan Roh Tuhan yang bekerja di dalam diri kita. Memberikan pengertian ke dalam hati kita, melembutkan saraf-saraf kita yang tegang, dan melonggarkan pikiran kita yang kusut (crowded). Berdoa yang bukan dengan harus melipat tangan, tetapi memusatkan pikiran meminta campur tangan Tuhan dalam pergumulan bathin kita. Tetapi satu hal, lakukanlah DOA itu dari saat pertama anda mengalami kejengkelan. Selanjutnya meski sejuta kejengkelan menghadang kita, tidak akan mempengaruhi kita. Semoga bermanfaat….!
Galatia 5:22-23 > Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.